Jika Saya Mati Duluan, Apa Kamu akan Kawin Lagi?

Jika Saya Mati Duluan, Apa Kamu akan Kawin Lagi? Begitulah kira-kira pertanyaan yang terkadang disampaikan sebagian Istri kepada suaminya. Sebaliknya juga demikian, pertanyaan serupa mungkin diajukan seorang suami kepada istri tercinta. Terlebih mereka yang sedang dimabuk kasmaran dan dibuai oleh sensasi cinta. Apakah anda juga pernah iseng menanyakan hal yang sama kepada pasangan anda?


Jawaban yang ingin anda dengar tentu adalah tidak, atau setidaknya gelengan kepala sebagai bahasa tubuh yang mengisyarakan komitmen untuk tidak mencintai, dicintai, dimiliki dan memiliki orang lain selain anda seorang, bahkan ketika anda terlebih dahulu meninggalkan alam fana ini. Bayangkan kalau jawaban yang meluncur dari bibir pasangan anda adalah gak tahu.. atau hanya diam tidak menjawab? Alih-alih mendengar jawaban selain tidak, sekiranya jawaban “tidak akan…” diiringi dengan kalimat Iinsya Allah, itu sudah cukup membuat anda tidak senang. Untuk memahaminya, saya mencoba menceritakan sebuah kisah.

Ada seorang peneliti mewawancarai tiga laki-laki, “Anda yakin, apa kira-kira yang akan dilakukan istri Anda setelah Anda meninggal?
Laki-laki 1: “Istriku akan patah hati dan menangis tiap hari selama bertahun-tahun.”
Laki-laki 2: “Dia pasti akan membangun rumah di samping kuburanku, dan terus menghayati seakan-akan aku masih bersamanya.”
Laki-laki 3: “Kurasa dia akan menguburku di pekarangan rumah, dan dia akan tidur tiap malam di samping kuburanku.”
Laki-laki 4: “Saya yakin istri saya akan menyesap semacam kopi sianida agar bisa menyusul saya ke alam barzah.”

Di waktu yang berbeda dan tempat terpisah. 4 Ibu-ibu juga ditanyai, “Ibu yakin, apa kira-kira yang akan dilakukan suami Ibu setelah Ibu meninggal?
Ibu 1: “Dia akan kawin lain sebelum seratus hari saya meninggal.”
Ibu 2: “Persis seperti yang dijawab Ibu ini.”
Ibu 3: “Sama dengan yang dijawab Ibu itu.”
Ibu 4: “Tiada beda dengan apa yang dikatakan mereka.”

Seraya pulang, si peneliti membatin, Ternyata, yang namanya laki-laki, meski di luar rumah suka main mata, namun samasekali tak siap ditinggal istrinya, sekalipun tubuhnya sudah jadi pupuk di alam lain. Sedangkan perempuan lebih realistis dalam hal ini.

Saat tiba di depan pintu rumahnya, sang istri membuka pintu menyambutnya seperti biasa setiap ia pulang kerja. Si peneliti yang masih terpengaruh dengan suasana di lapangan penelitian, tanpa sengaja mengajukan pertanyaan pada istrinya, “Dik, apa kira-kira yang Adik lakukan saat Abang meninggal nanti?”
“Tentu Adik akan akan patah hati dan menangis tiap hari selama bertahun-tahun; atau Adik akan membangun rumah di samping kuburan Abang, dan terus menghayati seakan-akan Abang masih bersama diriku; atau Adik akan mengubur Abang di pekarangan rumah, dan Adik akan tidur tiap malam di samping kuburan Abang; atau Adik akan menyesap semacam kopi sianida agar bisa menyusul Abang ke alam barzah sana.”

Bagai orang kebingungan, si peneliti seketika terheran-heran tak habis pikir mengingat jawaban istrinya persis seperti jawaban empat relawan laki-laki di sesi pertama penelitian. Mungkinkah ia telah mencuri baca data hasil wawancara itu?

“Kalau Abang, apa yang akan Abang lakukan saat Adik meninggal nanti?” Ditanya tiba-tiba begitu, si peneliti menggeragap dan nyaris spontan menjawab dengan jawaban empat ibu-ibu tadi. Namun untunglah, dalam seper-sekian detik ia sempat mengelak dengan, “Tadi ceritanya kan duluan Abang yang meninggal.”
Pesan Moral: Data hasil penelitian sebaiknya disimpan di kantor. Di rumah ada peneliti lain yang lebih lihai

Comments

Popular posts from this blog

One of the tips to remind the likes copa